Bila Ramadhan tiba, hmm, hari-hari terasa begitu menyenangkan. Selepas shalat Tarawih beledag-beledug menyulut lodong sampai tak sadar alis habis terbakar lantaran kelewat dekat lampu cempor saat meniup lubang lodong. Lalu, selepas sahur, kegiatan lain dilakukan: main kolaher dengan gaya bak pembalap gokart ternama. Nikmat sekali….
PALING telat seminggu sebelum Ramadhan tiba, anak-anak Bogor tahun 1970-an sudah merengek pada orangtuanya minta dibuatkan kolaher. Kolaher adalah lori kecil terbuat dari papan persegi panjang yang ukurannya rata-rata tak terlalu besar, kira-kira sekitar 75 x 30 cm saja, cukup untuk dinaiki berdua. Di keempat sisinya diberi roda dari laher. Umumnya menggunakan laher bemo yang biar ukurannya kecil tapi putarannya cepat. Dua laher depan disatukan oleh as dan bisa digerakkan ke kiri-ke kanan. Bertindak sebagai setir adalah tongkat kecil dari balok yang ditancapkan pada as di belakang laher. Supaya pegangan mantap, biasanya setir dilapis potongan ban dalam atau kain/handuk.
Sehabis sahur, sekitar pukul tiga dini hari (dulu rata-rata makan sahur sekitar jam 02.00), kolaher langsung ditenteng. Kalau saja direkam dengan kamera dari udara, dalam balutan gelap dini hari akan terlihat ratusan anak Bogor dari berbagai kampung ke luar rumah dan berjalan menuju jalan yang menanjak. Anak-anak Sukasari sampai Tajur kebanyakan memilih menggelindingkan kolaher mulai sekitar pabrik kain Unitex terus ke utara. Tapi tak sedikit yang mengambil titik start dari perempatan Ciawi. Anak-anak Pancasan mengambil titik start dari perempatan Pancasan yang memang menurun tajam ke arah Pulo Empang. Sementara anak-anak Jl Roda-Padabeunghar-Kebon Jukut-Kebon Manjah-Jero Kuta-Warung Bandrek dan sekitarnya rata-rata mengambil titik start di muka Sukasari Theater (sudah almarhum) di Jl Siliwangi.
Sekali sentak—atau minta bantuan teman untuk mendorongkan sebentar, kolaher langsung meluncur deras. Untuk menahan dingin, badan dibungkus sarung yang disarudumkeun sedemikian rupa hingga hanya mata saja yang terlihat, seperti Batman. Keren. Kalau kolaher tiba di tempat yang lantai dan berhenti, kolaher ditenteng lagi ke tempat start. Begitu berulang-ulang. Kadang ada balapan juga dengan sedikit senggol-senggolan. Sungguh menyenangkan!
Permainan biasanya baru berhenti bila jalanan sudah mulai ramai oleh mobil. Atau ada petugas patroli kota yang lewat dan mengusir pada pembalap kolaher, karena dinilai berbahaya dan bakal mengganggu lalu lintas.
Memang, permainan kolaher sebenarnya cukup berbahaya. Luncurannya lumayan deras, sementara kami hanya pakai baju-celana dan sarung, plus di kaki pakai sandal jepit atau sandal (merek) Lily yang begitu terkenal ketika itu. Tak ada yang pakai decker pelindung lutut atau sikut. Belinya di mana pun tak tahu. Jangankan itu, pemain bola yang mengenakan pelindung tulang kering saja sudah dianggap hebat, apalagi kalau main kolaher pakai yang begituan.
Akibatnya, setiap Ramadhan ada saja anak yang terjatuh dari kolaher hingga tangan atau kaki terkilir dan tubuh penuh baret-baret.
Karena itulah, tak semua orangtua mengikuti kehendak anaknya yang ingin dibuatkan kolaher, biar sampai nangis bombay sekalipun. Atau, bersedia membuatkan dengan janji tak main meluncur dari jalan yang kelewat curam. Tapi itu tak asyik. Masak main kolaher di jalan datar, mana bisa meluncur?
***
LALU lodong, juga populer di bulan Ramadhan. Lodong terbuat dari bambu besar dengan panjang rata-rata satu meteran. Sekat buku-buku dalam bambu diterobos, dibersihkan, hingga ia membentuk selongsong panjang macam bazoka. Di dekat ujung belakang lodong, diberi lubang kecil.
Sebelum dimainkan, moncong lodong harus diganjal sedikit agar lebih tinggi. Ke dalamnya kemudian dimasukkan minyak tanah atau karbit (dan air secukupnya) bila ingin suara yang terbit lebih menggelegar. Lalu, lewat lubang kecil itu di sulutlah dengan api dengan tongkat kecil yang ujungnya diberi potongan kecil kain yang diminyaki, dan bleduk! Bleduk! Bleduk! Rasanya seperti sedang memainkan meriam saja. Asyik.
Setiap habis beleduk, lodong ditiup lewat lubang kecil itu, untuk membersihkan asap yang tertinggal. Kadang, saking asyik main, tanpa sadar saat meniup, muka kelewat dekat dengan lampu cempor—tempat mengambil api, hingga alis pun terbakar. Ha-ha-ha….
Lodong paling aman dimainkan menggunakan ‘bahan peledak’ minyak tanah. Kalau pakai karbit, salah-salah lodong bisa pecah bila takaran karbit yang digunakan kelewat besar. Hanya dari sisi suara, lodong yang berbahan peledak karbit memang lebih menggelegar. Kalau dimainkan malam hari, suaranya bisa terdengar sampai jauh.
***
Kedua permainan itu kini tak terlihat lagi. Anak-anak zaman sekarang memiliki permainannya sendiri: playstation, main games via internet, saling kirim SMS sampai jemari pegal, dan sebagainya. Lodong juga ditinggalkan. Apaan? Anak-anak sekarang lebih suka main tembak-tembakan cyber di pusat-pusat permainan.
Ini memang risiko kemajuan zaman dan kehidupan. Tapi, saya teringat pada bangsa lain yang rupanya memiliki respek yang dalam pada tradisi mereka, sesederhana apapun tradisi itu. Sekalipun kehidupan sehari-hari mereka begitu modern.
Bangsa Skotlandia (juga Irlandia dan Australia) sampai hari ini mempertahankan tradisi kecakapan memanjat dan menebang pohon serta memotong kayu, bahkan sampai dilombakan. Ada juga yang setiap tahun menggelar kegiatan tradisi poporosotan dari atas tebing mengejar-ngejar keju—sebagaimana dilakukan bangsa Korea. Ribuan warga ikutan dan semuanya bergembira. Orang Jepang punya puluhan lomba permainan tradisional yang digelar rutin setiap tahun. Bahkan orang Italia punya tradisi mengadakan pesta silih baledog jeruk di jalanan, yang sejarahnya berawal dari peristiwa kemarahan rakyat pada kaum ningrat di sana. Tradisi itu tetap mereka pertahankan. Semua tradisi tersebut juga rutin ditampilkan dalam perayaan ulang tahun kota. Tradisi tersebut menjadi ruh yang sungguh sesuai dengan tagline Bogor: Di nu kiwari, ngancik nu bihari. Padahal bangsa-bangsa itu tidak pakai sematkan tagline segala.
Lalu, kenapa kita tidak mampu melakukan hal serupa? Kenapa kita cenderung melupakan kekayaan tradisi, apalagi yang dianggap remeh dan berbahaya seperti lodong dan kolaher? Apakah otak kita benar-benar buntu hingga tak mampu menemukan jalan untuk meng-created berbagai tradisi yang diakui atau tidak menentukan corak kehidupan kita saat ini?
Barangkali, ini barangkali ya, barangkali karena kita telah kehilangan sense of belonging dan sense of urgency. Kita menganggap yang lalu-lalu bukan lagi milik kita. Yang lalu-lalu, sudahlah, masuk kotak, tutup lawang sigotaka. Wassalam. Lebih baik menyelenggarakan aneka kegiatan yang acceptable dengan kekinian, seperti lomba karaoke atau nyanyi, break-dance atau tari modern, lomba masak, lomba tamiya, bazar (pameran), atau gerak jalan. Kalau pun hendak menjumput yang lalu-lalu, ya yang standar sajalah: wayang golek plus ngaruwat atau jaipongan—karena gampang dipelintir jadi pertunjukkan dangdutan. Masyarakat akan senang. Masyarakat akan berduyung-duyung datang. Di dalamnya juga kan terkandung realisasi tagline “Di nu kiwari ngancik nu bihari”. So, untuk apa payah-payah menggali tradisi khas yang kecil-kecil itu dan belum tentu juga acceptable dengan generasi kini, bukan?
***
Apa makna dari semua ini? Bagi saya maknanya, jangan-jangan kita sudah tak tahu dengan jelas arah dan apa sebenarnya yang ingin dicapai bersama di masa depan, dalam lingkup pengembangan kehidupan kota.
Segala kemeriahan perayaan ulang tahun Bogor yang baru lalu memperlihatkan: kita sekenanya saja menjumput jejak masa lalu sebagai penanda kegairahan menyambut ulang tahun kota. Jangan-jangan sekenanya juga kita rancang dan ambil segala kegiatan yang digelar yang kita anggap mewakili kekinian, tanpa memikirkan (atau diintegrasikan) apakah kegiatan itu adalah bagian dari pemupukan untuk menciptakan masayarakat dan kehidupan kota Bogor yang maju, modern, namun tanpa kehilangan jati dirinya.
Jangan-jangan pula kita masih menggunakan pola pikir lama yang dicekokkan rezim Orde Baru hingga hasilnya kita bangkrut dan di mana-mana berkeliaran tikus-tikus koruptor.
Kita tentu masih ingat, di zaman Soeharto--yang memimpin Indonesia secara represif dari tahun 1959 hingga 1989--ada konsep yang sangat bagus, yaitu “Menciptakan manusia Indonesia seutuhnya”. Agar konsep tersebut bisa terwujud secara kongkret, digaraplah segala hal per sektor. Namun pada kenyataannya, setiap sektor bergerak sendiri-sendiri dan lebih mengarah pada pembangunan fisik. Faktor manusia lenyap entah ke mana. Manusia-nya hanya jadi obyek, bukan subyek. Lantaran itu juga kita masih suka pakai teori-teori ekonom lama dalam mengukur kemajuan, seperti Gross Nation Product (GNP), karena lebih aman bagi para pengambil keputusan. Karena secara statistik faktor manusia yang lenyap itu tidak bakal kelihatan. Ketika sekarang PPB saja sudah menggunakan teori Human Development Index (HDI) karena lebih akurat mengukur kemajuan “manusia”-nya, kita tetap saja setia memakai GNP.
Saya kira, lantaran pola pikir semacam itulah hingga—misalnya—Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) kehilangan gregetnya dalam duapuluh tahun terakhir. Jakarta Fair semula lekat dengan citra sebagai sarana promosi bagi produk-produk baru dan karya-karya inovatif. Tapi belakangan berubah menjadi arena pasar biasa, hingga kehilangan gregetnya. Juga Pasar Seni ITB yang digelar setiap tahun di sepanjang Jl Ganesha, Bandung. Sampai pertengahan 1980-an, Pasar Seni ITB masih diminati karena banyak menyajikan hal-hal dan baru yang unik, seperti jam yang berputar terbalik atau pertunjukkan “layar toong”—kreasi dari mainan anak-anak Sunda menggunakan boneka kertas yang disematkan pada dua rentang benang yang diputar dengan kelos bekas benang di kiri kanannya. Kecil sekali kadar inovation-nya, tapi memiliki daya tarik kuat bagi pengunjung, karena kerutinan oleh hal-hal dan produk yang standar disegarkan oleh produk dan hal-hal inovatif tersebut.
Cilakanya kita justru meniru hal-hal yang kehilangan jati diri dan daya tarik itu dalam kariaan ultah Bogor yang baru lalu. Bazar, pameran, atau apalah namanya yang digelar lebih sebagai memindahkan dealer, leasing, toko-toko di mal-mal, atau karya standar ibu-ibu PKK. Tak ditemukan hal atau produk yang memperlihatkan kreatifitas masyarakat Bogor. Dan bila dimisalkan kita semua mengapung ke udara lalu melihat ke bawah, yang membedakan pameran di Bogor dengan di tempat lain di seluruh Indonesia hanya spanduknya saja.
Ini sangat menyedihkan.
Memang, semua produk atau hal yang ditampilkan dalam pameran itu punya hak juga untuk tampil atau berpromosi. Ini juga bagian dari drive bagi kehidupan masyarakat. Tapi tetap penting dipikirkan untuk menampilkan produk atau hal-hal baru yang inovatif, kreatif, memiliki daya tarik kuat, dan jelas memperlihatkan progres kehidupan masyarakat Bogor yang ber-tagline: di nu kiwari nganci nu bihari.
Pola pikir, cara pandang terhadap tradisi, dan cara kita memahami serta merealisasikan tagline itulah yang turut mendorong perkembangan kota ini jadi sekadarnya saja. Penanda kemajuan hidup dan kehidupan lebih ditandai pembangunan fisik. Sementara upaya mempertahankan tradisi megap-megap. Hingga pada akhirnya banyak tradisi khas Bogor sekadar jadi tontonan, bukan diupayakan dicecapkan dalam nadi setiap warga Bogor hingga semuanya menyadari, semua tradisi itu adalah bagian dari hidup kita. Apalagi kolaher dan lodong yang sekadar mainan.
Kacian deh….***
